Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan di Hutan Tanaman Industri (HTI)
.jpg&w=3840&q=75)
Simak prinsip pengelolaan lahan gambut berkelanjutan, mulai dari standar tata kelola air, revegetasi endemik, hingga pemantauan harian untuk mencegah kebakaran gambut.
Di bawah permukaan lahan gambut yang tampak tenang, sebenarnya ada pertarungan senyap antara air dan api yang menentukan nasib seluruh ekosistem di atasnya. Terlalu kering, gambut berubah menjadi bahan bakar yang mudah tersulut. Terlalu basah, pertumbuhan tanaman justru terganggu.
Titik keseimbangan di antara keduanya inilah yang menjadi inti dari pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Dan menariknya, ada angka spesifik di balik keseimbangan tersebut yang mungkin belum banyak kita ketahui.
Kalimantan Barat, tempat sebagian besar konsesi hutan tanaman industri berada, memang didominasi tipe tanah gambut. Bagi PT Mayawana Persada, perusahaan yang mengelola kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, pendekatan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan bukan sekadar wacana. Melainkan praktik teknis harian yang melibatkan pengukuran, pemantauan, dan intervensi yang konsisten dari tim lapangan.
Mengapa Tata Kelola Air Menjadi Kunci Gambut Berkelanjutan?
Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan dimulai dari satu variabel yang tampak sederhana namun krusial, yaitu tinggi muka air. Agus Trijoko, Asisten Kepala (Askep) Environment PT Mayawana Persada, menjelaskan bahwa menjaga tinggi muka air merupakan langkah paling mendasar dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem gambut. Jika terlalu basah maka akan berpengaruh ke tanaman. Sedangkan jika terlalu kering, risiko kebakaran.
Untuk itu, ditetapkan standar internal tinggi muka air sekitar 40 cm, lebih ketat dibanding kisaran regulasi yang menetapkan 60 hingga 80 cm. Pendekatan ini dipilih agar lahan tetap lembap tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman. Berikut ini adalah standar tinggi muka air yang perlu kita ketahui:
- Standar Internal Perusahaan: ±40 cm
- Kisaran Regulasi Pemerintah: 60-80 cm
Pemantauan Harian adalah Garis Pertahanan Pertama dari Kebakaran
Menetapkan standar saja tidak cukup, jika tanpa pemantauan secara konsisten. Pengukuran tinggi muka air perlu dilakukan setiap hari sebagai bagian dari pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. Pada musim kemarau, seluruh pintu kanal ditutup supaya cadangan air tetap terjaga. Dan jika hasil pengukuran menunjukkan penurunan, maka pengaturan kanal segera dilakukan.
Kewaspadaan ini penting karena karakteristik kebakaran gambut berbeda dari kebakaran di lahan mineral. Api dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi secara visual dan membutuhkan penanganan yang jauh lebih kompleks. Oleh karena itu, menjaga kelembapan gambut dipandang sebagai bentuk pencegahan kebakaran yang paling efektif, jauh sebelum api sempat muncul ke permukaan.
Revegetasi Berbasis Sains: Dari Bibit hingga Titik Tanam
.jpg)
Sumber: Canva (Gambar Hanya Ilustrasi)
Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan tidak berhenti di tata kelola air, akan tetapi berjalan beriringan dengan revegetasi. Area prioritas pemulihan ditentukan berdasarkan dokumen pemulihan gambut, termasuk melalui identifikasi kawasan dengan kerapatan vegetasi rendah. Jenis tanaman yang digunakan diprioritaskan dari spesies endemik agar tingkat adaptasinya lebih baik terhadap karakteristik lahan gambut.
Charia Salasari, Asisten Sustainability, menjelaskan bahwa seluruh proses penanaman telah memiliki standar operasional yang mengacu pada dokumen pemulihan gambut, lengkap dengan titik penanaman, plot monitoring, hingga mekanisme pelaporan.
Sebagai acuan di lapangan, revegetasi dilakukan dengan jarak tanam 5x5 meter. Bibit-bibit yang digunakan dipersiapkan melalui nursery khusus revegetasi yang ditempatkan di dalam kawasan hutan (berbeda dari nursery tanaman produksi) agar bibit lebih mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempatnya akan ditanam.
Monitoring Berkala dan Tingkat Keberhasilan
Perlu kita ketahui, bahwa pekerjaan tidak berhenti setelah bibit berada di dalam tanah. Setiap enam bulan, tim melakukan monitoring untuk mengukur tinggi dan diameter tanaman sebagai indikator keberhasilan pertumbuhan. Bibit yang tidak bertahan akan segera diganti agar target revegetasi tetap tercapai.
Menurut Agus, tingkat keberhasilan revegetasi hingga saat ini telah mencapai sekitar 80%. Tanaman yang tidak bertahan umumnya mengalami tingkat stres tinggi setelah dipindahkan dari persemaian ke lapangan, sehingga bibit kini menjalani masa adaptasi terlebih dahulu sebelum ditanam untuk mengurangi risiko tersebut.
Perluasan Kawasan Konservasi untuk Masa Depan Gambut
(req image)
Sumber: Mayawana Persada
Sebagai bagian dari penguatan pengelolaan lahan gambut berkelanjutan jangka panjang, terdapat rencana peningkatan kawasan konservasi oleh PT Mayawana Persada. Peningkatan kawasan konservasi direncanakan dari 37.000 hektar menjadi 71.000 hektar, yang tengah diintegrasikan ke dalam revisi Rencana Kerja Usaha (RKU). Muharjan, Asisten Kepala (Askep) Sustainability, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan, sejalan dengan kebijakan pemerintah serta komitmen menjaga keberlanjutan hutan.
Penguatan pengelolaan juga dilakukan melalui Working Group bersama pihak terkait dan sejumlah perusahaan lain, yang diarahkan untuk menjaga kawasan cagar biosfer, memperkuat pengelolaan lanskap, serta meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan.
Pengelolaan Lahan Gambut adalah Proses Berkelanjutan
Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan pada akhirnya bukan pekerjaan satu musim tanam, melainkan proses berkelanjutan yang menghubungkan tata kelola air, revegetasi berbasis sains, dan monitoring rutin. Dari standar muka air yang lebih ketat dari regulasi, pemantauan harian yang konsisten, hingga rencana perluasan kawasan konservasi, setiap keputusan kecil berkontribusi pada satu tujuan besar, yaitu memastikan hutan gambut tetap hidup untuk generasi mendatang.
Ingin memahami lebih jauh bagaimana keberlanjutan diterapkan di setiap lini operasional kami? Simak juga artikel pemanenan kayu untuk mengetahui bagaimana prinsip serupa diterapkan mulai dari proses tebang hingga alokasi kawasan lindung.



