ESGCSR & Komunitas

Tumbuh Bersama Masyarakat: Membangun Kepercayaan dan Mendorong Kemandirian Desa

Mayawana Mengajar Bangun Kepercayaan dan Kemandirian

PT Mayawana Persada memperkuat hubungan sosial dan kemandirian warga sekitar konsesi melalui program pencegahan stunting, Mayawana Mengajar, dan pemberdayaan ekonomi.

Bagi orang-orang seperti Petrus Litang dan Bella yang saban hari keliling desa sekitar hutan, kemajuan warga itu bentuknya sederhana. Bukan soal angka statistik di atas kertas, melainkan cerita nyata di lapangan: rumah-rumah kayu yang mulai permanen disemen, anak-anak desa yang makin semangat bersekolah, hingga ibu-ibu yang makin ahli menjaga gizi keluarga.


Perubahan ini tentu tidak terjadi semalam. Petrus Litang dari tim lapangan Mayawana ingat betul bagaimana sulitnya kehidupan warga di awal-awal dulu. Masuknya perusahaan perlahan membuka jalan bagi warga untuk memperbaiki ekonomi dan taraf hidup mereka.


Kesamaan Budaya sebagai Jembatan Komunikasi

Membangun rasa percaya di tengah masyarakat desa tentu punya tantangan tersendiri, terutama terkait kekhawatiran warga soal status kawasan. Bagi Petrus, kunci untuk mencairkan prasangka dan konflik sosial adalah komunikasi yang jujur dan pendekatan budaya yang setara.


Sebagai orang lokal yang memahami adat Dayak, Petrus memilih untuk melebur tanpa membeda-bedakan latar belakang sub-suku. "Ketika bicara tentang Dayak, kita satu. Saat turun ke lapangan dan bertemu warga, saya menganggap anak-anak di sana seperti adik sendiri, dan ibu-ibu di sana seperti orang tua sendiri," terangnya.


Melalui pendekatan kekeluargaan ini, tim lapangan PT Mayawana Persada hadir sebagai jembatan yang mendengarkan keluhan warga sekaligus mencari titik tengah bersama perusahaan. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan itu tumbuh karena warga merasakan langsung dampak positifnya.


Program Pemberdayaan Berbasis Kebutuhan Nyata

Di sisi lain, Veronika Bella Cynthia, Asisten Corporate Social Responsibility (CSR), memfokuskan pekerjaannya untuk memastikan bantuan yang turun benar-benar berguna dan membuat warga mandiri, bukan sekadar "bagi-bagi bantuan lalu selesai”.


Pendampingan CSR dirancang dengan cara duduk bersama dan berdiskusi langsung dengan warga untuk merumuskan program yang paling dibutuhkan:


  • Kesehatan & Bebas Stunting: Perusahaan memboyong dokter ke desa untuk memberikan edukasi gizi dan mengajarkan orang tua cara mengukur tumbuh kembang anak secara mandiri. 
  • Pendidikan ("Mayawana Mengajar"): Berjalan di Sekucing Labai dan terus dikembangkan, program ini fokus melatih dan memperkuat kemampuan berbahasa Inggris murid-murid Sekolah Dasar kelas 5 khususnya di SDN 14 Desa Sekucing Labai, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. 
  • Ekonomi Produktif: Lewat diskusi partisipatif, perusahaan dan warga merancang usaha ternak kambing, babi, hingga perikanan yang sesuai dengan potensi dan kesiapan warga setempat. 


Lewat gabungan pendekatan budaya di lapangan dan program pemberdayaan yang terarah, PT Mayawana Persada membuktikan bahwa keberadaan industri kehutanan bisa berjalan seiring dengan meningkatnya kemandirian warga desa di sekitarnya. Karena,, kemajuan kawasan hutan bukan hanya diukur dari jumlah pohon yang tumbuh, tapi juga dari munculnya rasa percaya dan kemampuan masyarakat setempat untuk menentukan masa depan mereka sendiri.


FAQ

Bagaimana PT Mayawana Persada membangun kepercayaan dan kemandirian masyarakat lokal?

Pendekatan sosial PT Mayawana Persada bertumpu pada komunikasi berbasis budaya lokal dan program CSR yang tepat sasaran. Didukung oleh tim pendamping lapangan yang memahami kultur Dayak, perusahaan mentransformasi hubungan kemitraan melalui program nyata: penanganan stunting dan edukasi gizi, penguatan kapasitas guru dan siswa lewat program "Mayawana Mengajar", serta pendampingan usaha ekonomi produktif desa (peternakan dan perikanan) berbasis diskusi partisipatif.