ESGCSR & Komunitas

Menggali Potensi Desa: Membangun Kemandirian Lewat Rantai Pasok Lokal

Berkumpul bersama masyarakat

PT Mayawana Persada memperkuat ekonomi warga desa sekitar konsesi melalui pemetaan klaster komoditas, integrasi pasokan kantin, dan kemitraan pasar.

Menjaga tradisi berladang dan memanfaatkan hasil sungai adalah mata pencarian utama warga setempat yang diwarisi turun-temurun. Alih-alih mengubah kebiasaan tersebut, PT Mayawana Persada memilih untuk memperkuat potensi yang ada dengan membuka akses dan kepastian pasar.


Pendekatan ini ditegaskan oleh Asisten Corporate Social Responsibility (CSR) PT Mayawana Persada, Veronika Bella Cynthia, dan Asisten Social, Security, and License (SSL), Petrus Litang. Keduanya melihat bahwa program ekonomi yang berhasil adalah program yang berangkat dari karakter dan kebiasaan asli warga setempat.


"Kehidupan orang lokal di sini masih sangat lekat dengan berladang dan menangkap ikan," ungkap Bella. "Visi kami bukan mengubah profesi mereka, melainkan mendukung dan menggali potensi tersebut agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih kepastian.”


Pemetaan Klaster Komoditas dan Integrasi Rantai Pasok

Salah satu kendala utama warga saat panen melimpah adalah risiko pembusukan produk akibat keterbatasan penampung dan akses pasar. Untuk mengatasi hal ini, perusahaan merancang pemetaan klaster ekonomi berbasis keunggulan tiap desa:


  • Desa Sekucing Labai : Didorong sebagai pusat pemasok sayur-mayur segar. 
  • Desa Kualan Hilir: Difokuskan pada pengembangan tanaman padi melalui sistem agroforestri. 
  • Desa Sekucing Kualan: Dikembangkan sebagai sentra perikanan sungai dengan fasilitas keramba penampungan. 


hasil panen warga ini kedepannya akan diintegrasikan langsung ke dalam kebutuhan operasional harian perusahaan. Beras dan sayur-mayur hasil budidaya warga dibeli langsung oleh perusahaan untuk memasok kebutuhan kantin pekerja.


"Beras dan sayuran dari warga akan dikumpulkan dan dibeli untuk kebutuhan kantin operasional kami sendiri," jelas Bella. "Langkah ini menciptakan hubungan saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).”


Mengikis Ketergantungan, Mendorong Wirausaha Mandiri

Bagi Petrus Litang, keterhubungan antara produksi warga dan kebutuhan perusahaan bertujuan menciptakan kemandirian jangka panjang. Perusahaan memposisikan diri sebagai pemicu awal (catalyst) agar warga mampu mengelola usaha secara profesional melalui jaringan penampung pasar resmi.


Selain sektor pertanian dan perikanan, tim pemberdayaan sedang menyiapkan program pelatihan keterampilan jasa tambahan, seperti perbengkelan, pangkas rambut, dan tata rias, guna memperluas variasi sumber penghasilan warga.


"Kami tidak ingin warga bergantung terus-menerus pada perusahaan," tegas Bella. "Tujuan akhirnya adalah menggerakkan warga agar mampu berdiri di atas kaki sendiri sebagai wirausahawan mandiri."


Melalui pemetaan potensi lokal yang cermat, PT Mayawana Persada membuktikan bahwa pertumbuhan industri kehutanan dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi warga di sekitar kawasan konsesi.


FAQ

Bagaimana PT Mayawana Persada mendorong kemandirian ekonomi desa?

PT Mayawana Persada mengintegrasikan mata pencaharian tradisional warga (bertani, berladang, dan menangkap ikan) ke dalam rantai pasok ekonomi perusahaan. Melalui pemetaan potensi spesifik, seperti Desa Sekucing Labai untuk sayuran, Kualan Hilir untuk padi agroforestri, dan Sekucing Kualan untuk perikanan, perusahaan berperan sebagai off-taker (pembeli) hasil panen warga untuk kebutuhan kantin operasional sekaligus memfasilitasi akses pasar dan pembentukan wirausaha mandiri. Perusahaan juga membuka kesempatan untuk melakukan kegiatan Community Development lainnya seperti peternakan dan kebutuhan masyarakat lainnya.